
Secara sederhana, refinancing adalah mengganti pinjaman atau pembiayaan yang sedang berjalan dengan fasilitas baru yang memiliki ketentuan berbeda. Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan suku bunga, tenor, jumlah pembayaran berkala, maupun struktur pembiayaan.
Meski demikian, refinancing bukan berarti kewajiban otomatis menjadi lebih ringan atau murah. Fasilitas baru tetap memiliki biaya dan persyaratan yang perlu diperhitungkan.
Lalu, apa itu refinancing, bagaimana cara kerjanya, dan apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memilihnya?
Apa Itu Refinancing dan Bagaimana Cara Kerjanya
Refinancing adalah proses mengganti fasilitas pinjaman atau pembiayaan yang sedang berjalan dengan fasilitas baru. Fasilitas baru tersebut biasanya memiliki ketentuan yang berbeda dari fasilitas sebelumnya.
Tujuan refinancing dapat beragam, misalnya:
- mendapatkan struktur pembayaran yang lebih sesuai;
- mengubah tenor pembiayaan;
- memperoleh tingkat bunga atau biaya yang berbeda; atau
- menyesuaikan kewajiban dengan kondisi finansial saat ini.
Dalam refinancing, fasilitas lama pada prinsipnya diselesaikan sesuai mekanisme yang berlaku, kemudian peminjam melanjutkan kewajiban berdasarkan perjanjian fasilitas baru.
Karena merupakan fasilitas baru, refinancing biasanya tetap membutuhkan proses pengajuan dan penilaian dari lembaga keuangan.
Baca juga: Restrukturisasi Utang: Ketahui Faktanya di Sini!
Bagaimana Cara Kerja Refinancing?
Cara kerja refinancing dapat berbeda tergantung jenis produk dan lembaga keuangan yang menyediakannya.
Namun, secara umum prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:
- Mengevaluasi fasilitas yang sedang berjalan: Periksa sisa pokok, tenor, pembayaran berkala, bunga atau biaya, serta ketentuan pelunasan fasilitas yang digunakan saat ini.
- Mencari fasilitas baru: Bandingkan pilihan pembiayaan berdasarkan biaya, tenor, pembayaran berkala, dan persyaratan lainnya.
- Mengajukan fasilitas baru: Lembaga keuangan akan melakukan evaluasi sesuai kebijakan dan prosedurnya.
- Menyelesaikan fasilitas sebelumnya: Jika fasilitas baru disetujui, penyelesaian kewajiban lama dilakukan sesuai mekanisme yang telah disepakati.
- Melanjutkan pembayaran berdasarkan perjanjian baru: Setelah proses selesai, pembayaran mengikuti jadwal dan ketentuan fasilitas baru.
Refinancing bukan sekadar memindahkan cicilan. Hal terpenting adalah memastikan bahwa perubahan tersebut memberikan struktur kewajiban yang benar-benar lebih sesuai.
Contoh Sederhana Refinancing
Misalnya, seseorang masih memiliki pinjaman dengan sisa tenor 12 bulan. Kemudian tersedia pilihan refinancing dengan tenor 24 bulan.
Dengan tenor yang lebih panjang, pembayaran per bulan berpotensi menjadi lebih rendah karena kewajiban dibagi ke dalam periode yang lebih panjang.
Namun, ada konsekuensi yang perlu diperhatikan.
Tenor lebih panjang dapat membuat total bunga atau biaya yang dibayarkan selama masa pinjaman menjadi lebih besar.
Karena itu, perbandingan refinancing sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Berapa cicilan per bulannya?”
Tetapi juga:
“Berapa total kewajiban yang harus dibayarkan sampai lunas?”
Jenis Refinancing yang Umum Dikenal
Istilah refinancing dapat digunakan pada beberapa jenis fasilitas keuangan. Bentuk dan mekanismenya dapat berbeda tergantung produk.
1. Rate-and-Term Refinancing
Jenis ini berfokus pada perubahan ketentuan seperti tingkat bunga dan jangka waktu pembiayaan.
Tujuannya dapat berupa memperoleh struktur pembayaran yang lebih sesuai tanpa mengambil tambahan dana di luar fasilitas yang digantikan.
2. Cash-Out Refinancing
Pada beberapa jenis pembiayaan berbasis aset, terdapat mekanisme refinancing yang memungkinkan nilai fasilitas baru lebih besar daripada sisa kewajiban sebelumnya.
Selisih dana kemudian dapat digunakan untuk kebutuhan lain sesuai ketentuan penyedia pembiayaan.
Jenis refinancing ini tidak tersedia pada semua produk keuangan.
3. Refinancing Berbasis Aset
Refinancing juga banyak dikenal dalam produk yang memiliki aset sebagai dasar pembiayaan, misalnya properti atau kendaraan.
Mekanisme, persyaratan, hingga biaya yang berlaku akan mengikuti karakteristik masing-masing produk dan kebijakan lembaga keuangan.
Baca juga: Kredit Macet: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Menghindarinya
Manfaat Refinancing yang Perlu Diketahui
Jika kondisi fasilitas baru memang lebih sesuai, refinancing dapat memberikan beberapa manfaat.
1. Menyesuaikan Pembayaran dengan Kondisi Keuangan
Kemampuan finansial seseorang dapat berubah seiring waktu.
Refinancing dapat memberikan struktur pembayaran berbeda yang mungkin lebih sesuai dengan kondisi pendapatan dan pengeluaran saat ini.
Namun, pembayaran bulanan yang lebih kecil tetap perlu dibandingkan dengan total kewajiban hingga akhir tenor.
2. Mendapatkan Tenor yang Berbeda
Refinancing dapat memberikan kesempatan untuk mengubah jangka waktu pembayaran.
Tenor yang lebih panjang dapat menurunkan jumlah pembayaran per periode dalam kondisi tertentu, tetapi memperpanjang masa kewajiban.
Sebaliknya, tenor yang lebih pendek dapat membuat kewajiban selesai lebih cepat, tetapi pembayaran setiap periodenya mungkin lebih besar.
3. Mendapatkan Ketentuan Biaya yang Berbeda
Kondisi produk keuangan dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, fasilitas baru mungkin menawarkan struktur bunga atau biaya yang berbeda dibandingkan fasilitas sebelumnya.
Akan tetapi, bunga bukan satu-satunya komponen yang perlu dihitung.
Perhatikan pula biaya administrasi, provisi, biaya pelunasan fasilitas lama, dan biaya lainnya apabila ada.
4. Membantu Mengatur Arus Kas
Perubahan struktur pembayaran dapat memberikan ruang yang berbeda dalam anggaran bulanan.
Hal ini dapat membantu pengelolaan arus kas selama fasilitas yang dipilih tetap sesuai dengan kemampuan pembayaran.
Risiko Refinancing yang Perlu Dipertimbangkan
Refinancing memiliki manfaat potensial, tetapi juga tidak terlepas dari risiko.
1. Cicilan Lebih Kecil Belum Tentu Lebih Murah
Ini merupakan salah satu hal terpenting dalam refinancing.
Pembayaran Rp1 juta selama 24 bulan, misalnya, belum tentu lebih menguntungkan daripada pembayaran Rp1,5 juta selama 12 bulan.
Untuk mengetahuinya, seluruh bunga dan biaya perlu dihitung.
Karena itu, cicilan bulanan dan total kewajiban adalah dua hal yang berbeda.
2. Tenor Bisa Menjadi Lebih Panjang
Memperpanjang tenor memang dapat membuat jumlah pembayaran per periode lebih rendah, tetapi kewajiban akan berlangsung lebih lama.
Semakin panjang tenor, semakin penting menghitung total biaya selama periode tersebut.
3. Ada Kemungkinan Biaya Tambahan
Tergantung produk keuangan, refinancing dapat melibatkan sejumlah biaya, misalnya:
- biaya administrasi;
- provisi;
- biaya pelunasan lebih awal;
- appraisal;
- asuransi; atau
- biaya lain sesuai produk.
Tidak semua biaya tersebut berlaku pada setiap refinancing. Periksa ketentuannya sebelum membuat keputusan.
4. Pengajuan Belum Tentu Disetujui
Karena refinancing melibatkan fasilitas baru, lembaga keuangan tetap dapat melakukan evaluasi terhadap pengajuan.
Persetujuan maupun ketentuan yang diberikan akan bergantung pada hasil penilaian dan kebijakan penyedia fasilitas.
5. Refinancing Tidak Menyelesaikan Penyebab Masalah Keuangan
Jika kesulitan keuangan terjadi karena pengeluaran terus melebihi pendapatan, mengganti satu fasilitas dengan fasilitas lainnya belum tentu menyelesaikan masalah.
Perbaikan arus kas dan pengelolaan pengeluaran tetap diperlukan.
Refinancing dan Debt to Income Ratio
Sebelum mengambil fasilitas keuangan baru, kemampuan membayar tetap menjadi faktor penting.
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasinya adalah Debt to Income Ratio (DTI) atau rasio antara kewajiban utang dengan pendapatan.
Secara sederhana:
DTI = Total pembayaran utang bulanan ÷ Pendapatan bulanan × 100%
Contohnya, jika total kewajiban setiap bulan Rp3 juta dan pendapatan Rp10 juta:
Rp3.000.000 ÷ Rp10.000.000 × 100% = 30%
DTI dapat membantu memberikan gambaran mengenai seberapa besar bagian pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kewajiban utang.
Namun, kemampuan finansial tidak hanya ditentukan oleh satu rasio. Pengeluaran rutin, dana darurat, jumlah tanggungan, dan kebutuhan lainnya juga perlu diperhitungkan.
Baca juga: Debt to Income Ratio: Pengertian, Cara Hitung & Tips
Pertimbangkan Kebutuhan Pendanaan dengan Adapundi
Pinjaman daring adalah salah satu pendanaan digital yang dapat diandalkan saat membutuhkan dana cepat tanpa proses Panjang
Salah satunya Adapundi yang sudah berizin dan diawasi OJK. Dengan limit tinggi hingga Rp100 juta, cicilan fleksibel sampai 12 bulan, serta bunga rendah. Dengan akses pendanaan ini, kamu bisa mengajukan pinjaman sesuai kebutuhan.
Tunggu apa lagi, yuk download Adapundi di Playstore dan Appstore sekarang!
Namun, selalu ingat sebelum menggunakan layanan pinjaman, pertimbangkan terlebih dahulu kebutuhan dana dan kemampuan membayar. Pelajari informasi produk serta perjanjian pendanaan sebelum memberikan persetujuan.
Gunakan pendanaan sesuai kebutuhan dan hindari mengambil kewajiban melebihi kemampuan finansial.
Sumber:

