
Doom spending adalah perilaku membelanjakan uang yang dipengaruhi rasa pesimis atau ketidakpastian terhadap masa depan. Seseorang dapat merasa bahwa tujuan finansial jangka panjang semakin sulit dicapai, sehingga menikmati uang sekarang terasa lebih masuk akal dibandingkan menabung atau menyiapkannya untuk kebutuhan mendatang.
Istilah doom spending semakin sering muncul dalam pembahasan mengenai perilaku keuangan, terutama ketika membicarakan tekanan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, media sosial, hingga kemudahan bertransaksi secara digital.
Artikel ini membahas penyebab doom spending, contoh dan ciri-cirinya, kaitannya dengan Gen Z, dampaknya terhadap kondisi keuangan, perbedaannya dengan perilaku belanja lain, serta langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending merupakan pola konsumsi yang dipengaruhi pandangan pesimis atau ketidakpastian terhadap masa depan. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih tertarik memperoleh kepuasan dalam waktu dekat daripada memprioritaskan tujuan finansial yang hasilnya baru terasa beberapa tahun kemudian.
Secara bahasa, istilah doom spending berasal dari dua kata:
- Doom menggambarkan situasi buruk, suram, atau pandangan pesimis terhadap apa yang mungkin terjadi.
- Spending berarti pengeluaran atau aktivitas membelanjakan uang.
Dalam konteks keuangan pribadi, keduanya menggambarkan perilaku konsumsi yang dipengaruhi persepsi negatif mengenai masa depan.
Orang yang mengalaminya bukan selalu tidak memahami pentingnya menabung. Ia mungkin mengetahui bahwa dana darurat dan tujuan finansial diperlukan, tetapi ketidakpastian membuat manfaat menikmati uang sekarang terasa lebih nyata dibandingkan manfaat yang baru diterima jauh di kemudian hari.
Doom spending dapat terbentuk melalui rangkaian sederhana:
ketidakpastian → kecemasan atau pesimisme → mencari rasa nyaman atau kendali → konsumsi jangka pendek
Misalnya, seseorang terus membaca berita mengenai kenaikan biaya hidup dan sulitnya memiliki rumah. Lama-kelamaan, tujuan tersebut terasa semakin jauh.
Alih-alih mempertahankan rencana menabung, ia mulai berpikir bahwa uang yang tersedia lebih baik digunakan untuk menikmati hidup sekarang. Belanja, hiburan, atau liburan kemudian memberikan rasa puas dan kendali untuk sementara.
Masalah dapat muncul ketika respons seperti ini terus berulang dan mulai menggeser kebutuhan serta tujuan keuangan yang sebenarnya penting.
Mengapa Orang Melakukan Doom Spending?
Doom spending biasanya tidak disebabkan satu hal. Berikut beberapa faktor yang dapat berperan.
Ketidakpastian Ekonomi Membuat Masa Depan Terasa Sulit Diprediksi
Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan terasa tidak berkembang secepat pengeluaran, seseorang dapat merasa lebih sulit merencanakan masa depan.
Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi persepsi tersebut antara lain:
- biaya kebutuhan sehari-hari yang meningkat;
- kekhawatiran mengenai keamanan pekerjaan;
- pendapatan yang tidak stabil;
- harga hunian yang terasa semakin jauh dari kemampuan;
- serta tujuan finansial besar yang membutuhkan waktu semakin panjang.
Ketika jarak antara kondisi sekarang dan tujuan terasa terlalu besar, motivasi untuk menabung dapat menurun.
Pengeluaran yang memberikan manfaat langsung akhirnya terasa lebih menarik.
Stres dan Financial Anxiety Dapat Memicu Belanja
Belanja bagi sebagian orang dapat menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian dari stres.
Saat memilih barang, menunggu paket, bepergian, atau menikmati hiburan, seseorang dapat memperoleh kepuasan sementara yang membuat pikirannya teralihkan dari kekhawatiran finansial.
Dalam kondisi tertentu, konsumsi kemudian digunakan sebagai bentuk coping mechanism atau cara mengelola emosi.
Namun, rasa nyaman tersebut umumnya bersifat sementara. Jika pengeluaran justru menambah tekanan terhadap keuangan, kecemasan dapat muncul kembali setelah transaksi selesai.
Instant Gratification Membuat Konsumsi Saat Ini Terasa Lebih Menarik
Ada perbedaan besar antara manfaat yang dirasakan sekarang dan manfaat yang baru akan diperoleh beberapa tahun lagi.
Membeli sesuatu yang diinginkan dapat memberikan kepuasan hari ini. Sebaliknya, menabung untuk rumah, pendidikan, investasi, atau pensiun membutuhkan konsistensi dalam jangka panjang.
Ketika masa depan sedang dipandang pesimis, immediate reward atau kepuasan langsung dapat terasa lebih bernilai dibandingkan future reward.
Pola pikir inilah yang dapat memperkuat doom spending.
Media Sosial Dapat Memperbesar Dorongan Konsumsi
Media sosial membuat seseorang terus terpapar kehidupan dan konsumsi orang lain.
Dalam satu hari, pengguna dapat melihat:
- teman yang sedang berlibur;
- kreator yang membeli gadget terbaru;
- tren fashion yang berubah cepat;
- rekomendasi tempat makan;
- promosi marketplace;
- hingga konten mengenai gaya hidup yang dianggap ideal.
Paparan tersebut dapat memicu social comparison atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Ditambah dengan FOMO (fear of missing out), seseorang dapat merasa perlu ikut membeli atau mencoba sesuatu agar tidak tertinggal.
Baca Juga: Frugal Living vs Doom Spending, Mana Lebih Bijak?
Apa Contoh Doom Spending dalam Kehidupan Sehari-hari?
Contoh doom spending tidak dapat dinilai hanya dari barang yang dibeli. Berikut beberapa pola yang dapat menggambarkannya.
Membeli Barang Mahal karena Merasa Menabung Tidak Akan Cukup untuk Tujuan Besar
Misalnya, seseorang ingin memiliki rumah tetapi merasa harga properti semakin sulit dijangkau.
Ia kemudian berpikir:
"Kalau menabung beberapa tahun pun belum tentu cukup untuk membeli rumah, lebih baik uangnya dipakai sekarang."
Pemikiran tersebut dapat mendorong pengeluaran untuk:
- gadget baru;
- fashion;
- konser dan hiburan;
- hobi;
- kuliner;
- atau liburan.
Pengeluaran tersebut tidak otomatis salah. Hal yang membuatnya menyerupai doom spending adalah ketika keputusan tersebut berulang kali didorong oleh rasa putus asa terhadap tujuan finansial jangka panjang.
Menggunakan Tabungan untuk Pengeluaran yang Tidak Direncanakan
Tabungan yang awalnya diperuntukkan bagi dana darurat, pendidikan, uang muka rumah, atau tujuan lain dapat perlahan digunakan untuk konsumsi.
Satu kali pengambilan mungkin terlihat kecil.
Namun, apabila tabungan berkali-kali digunakan untuk pengeluaran non-esensial karena seseorang merasa tujuan awalnya tidak lagi realistis, konsumsi jangka pendek mulai menggantikan perencanaan finansial jangka panjang.
Sering Menggunakan Paylater untuk Mempertahankan Gaya Hidup
Contoh lainnya adalah menggunakan paylater secara berulang untuk menjaga tingkat konsumsi meskipun dana tunai yang tersedia sebenarnya terbatas.
Misalnya:
- membeli pakaian setiap mengikuti tren;
- mengganti perangkat elektronik meski perangkat lama masih berfungsi;
- mengambil cicilan untuk hiburan;
- atau berbelanja setelah anggaran bulanan sudah habis.
Hal yang perlu diperhatikan bukan sekadar metode pembayarannya, tetapi apakah total kewajiban berikutnya masih sesuai dengan arus kas.
Jika pembayaran periode berikutnya terus terpakai untuk menutup konsumsi periode sebelumnya, ruang dalam anggaran dapat semakin sempit.
Berbelanja untuk Mengurangi Stres atau Kecemasan
Seseorang juga dapat membeli makanan, pakaian, barang hobi, atau hiburan ketika sedang mengalami tekanan.
Pola ini memiliki irisan dengan emotional spending, tetapi keduanya tidak selalu sama.
Emotional spending dapat dipicu berbagai emosi, seperti sedih, bosan, marah, atau bahkan senang. Pada doom spending, dorongan konsumsi secara khusus berhubungan dengan pesimisme atau ketidakpastian mengenai masa depan.
Apa Ciri-Ciri Seseorang Mengalami Doom Spending?
Doom spending lebih mudah dikenali melalui pola motivasi dan konsekuensinya daripada melalui satu transaksi.
Beberapa tanda berikut dapat menjadi bahan evaluasi.
Sering Berpikir "Lebih Baik Dinikmati Sekarang"
Salah satu pola pikir yang sering muncul adalah merasa bahwa mempersiapkan masa depan tidak banyak gunanya karena kondisi ekonomi atau kehidupan dianggap terlalu sulit diprediksi.
Menikmati hasil kerja tentu bukan sesuatu yang keliru. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pemikiran tersebut digunakan berulang kali untuk membenarkan pengeluaran yang sebenarnya mengganggu kondisi keuangan.
Tujuan Finansial Jangka Panjang Mulai Diabaikan
Anggaran untuk dana darurat, pendidikan, rumah, investasi, atau persiapan pensiun terus dikurangi untuk memenuhi konsumsi saat ini.
Bahkan ketika pendapatan meningkat, jumlah yang dialokasikan untuk tujuan tersebut tidak ikut bertambah karena peningkatan pendapatan langsung diikuti peningkatan gaya hidup.
Pengeluaran Non-Esensial Meningkat Saat Merasa Stres
Perhatikan hubungan antara kondisi emosional dan transaksi.
Apakah keinginan membuka marketplace meningkat setelah mengalami hari yang berat?
Apakah berita ekonomi yang membuat cemas justru diikuti keinginan membeli sesuatu?
Pola berulang seperti ini dapat menunjukkan bahwa konsumsi mulai digunakan untuk mengatur emosi.
Tabungan Sering Digunakan untuk Konsumsi
Mengambil tabungan sesekali tidak selalu menjadi masalah, terutama untuk kondisi yang memang sesuai tujuan tabungan tersebut.
Namun, jika tabungan berkali-kali digunakan untuk pembelian spontan atau gaya hidup, penting untuk melihat kembali alasan di balik keputusan tersebut.
Pembelian Sering Disertai Penyesalan Setelahnya
Kepuasan sesaat dapat berubah menjadi rasa menyesal ketika seseorang melihat saldo rekening, tagihan, atau tujuan keuangannya kembali menjauh.
Jika pola ingin membeli → merasa senang → menyesal → mengulang kembali terjadi berulang kali, sudah saatnya pola pengeluaran dievaluasi.
Mengapa Doom Spending Sering Dikaitkan dengan Gen Z?
Istilah doom spending Gen Z banyak dibicarakan karena generasi ini menjalani masa dewasa dalam lingkungan yang mempertemukan tekanan ekonomi dengan konsumsi digital yang sangat mudah diakses.
Namun, hubungan tersebut perlu dilihat sebagai konteks, bukan sebagai label bahwa seluruh Gen Z memiliki kebiasaan finansial yang sama.
Gen Z Menghadapi Tekanan Biaya Hidup dan Ketidakpastian Finansial
Bagi sebagian anak muda, beberapa tujuan yang sebelumnya dianggap sebagai tahapan umum dalam kehidupan dapat terasa semakin sulit dicapai.
Misalnya:
- memiliki hunian;
- mencapai kestabilan pekerjaan;
- membangun tabungan;
- dan menjaga standar hidup di tengah kenaikan berbagai pengeluaran.
Ketika pendapatan yang tersedia terasa semakin jauh dari biaya untuk mencapai tujuan tersebut, muncul risiko pemikiran bahwa menabung tidak akan menghasilkan perubahan berarti.
Tujuan Finansial Besar Dapat Terasa Semakin Sulit Dicapai
Membeli rumah, membangun kekayaan, atau mencapai financial security merupakan tujuan yang membutuhkan waktu panjang.
Apabila seseorang merasa jaraknya terlalu jauh, motivasi untuk menunda kesenangan hari ini dapat berkurang.
Misalnya, seseorang mungkin berpikir bahwa mengurangi pengeluaran hiburan selama beberapa bulan tidak akan cukup untuk mendekatkannya secara signifikan kepada harga sebuah rumah.
Dari sinilah konsumsi jangka pendek bisa terasa lebih memberikan manfaat.
Namun, sulitnya mencapai satu tujuan besar tidak berarti tujuan keuangan yang lebih kecil kehilangan manfaat. Dana darurat, pengelolaan arus kas, dan tabungan tetap dapat memberikan perlindungan terhadap berbagai kebutuhan yang lebih dekat.
Media Sosial Membentuk Ekspektasi Gaya Hidup Gen Z
Gen Z tumbuh bersama media sosial yang memperlihatkan kehidupan orang lain hampir setiap saat.
Konten mengenai perjalanan, tempat makan, gadget, fashion, kendaraan, hingga pencapaian finansial dapat membentuk persepsi mengenai gaya hidup yang dianggap normal.
Masalahnya, media sosial jarang memperlihatkan kondisi keuangan seseorang secara utuh.
Pengguna hanya melihat hasil akhirnya, bukan selalu pendapatan, utang, prioritas, bantuan keluarga, atau kondisi lain di balik gaya hidup tersebut.
Tanpa disadari, perbandingan ini dapat meningkatkan tekanan untuk mengikuti standar konsumsi orang lain.
Apa Bedanya Doom Spending dan Impulsive Buying?
Perbedaan utama doom spending dan impulsive buying terdapat pada motivasinya.
| Aspek | Doom Spending | Impulsive Buying |
|---|---|---|
| Pemicu utama | Pesimisme atau ketidakpastian mengenai masa depan | Dorongan membeli secara spontan |
| Motivasi | Menikmati uang sekarang karena masa depan terasa tidak pasti | Mendapatkan barang atau kepuasan saat itu |
| Perencanaan | Bisa spontan maupun direncanakan | Umumnya tidak direncanakan |
| Pola | Dapat berlangsung berulang | Bisa terjadi sesekali |
| Konteks | Berkaitan dengan persepsi terhadap masa depan dan kondisi finansial | Berkaitan dengan keputusan pembelian sesaat |
Impulsive buying merupakan pembelian spontan yang dilakukan tanpa perencanaan sebelumnya. Doom spending berkaitan dengan pola konsumsi yang dipengaruhi pesimisme atau ketidakpastian mengenai masa depan.
Bagaimana Cara Mengatasi Doom Spending?
Mengatasi doom spending bukan berarti berhenti menikmati uang sama sekali.
Tujuannya adalah membuat konsumsi tetap memiliki tempat dalam kehidupan tanpa mengorbankan kebutuhan dan tujuan yang lebih penting.
Kenali Pemicu Doom Spending
Mulailah dengan memperhatikan kapan keinginan belanja paling sering muncul.
Beberapa pemicu yang umum antara lain:
- stres setelah bekerja;
- kecemasan setelah membaca berita ekonomi;
- terlalu lama melihat media sosial;
- FOMO ketika melihat teman membeli sesuatu;
- hari gajian;
- promosi dan tanggal kembar;
- atau perasaan bahwa diri sendiri "berhak mendapatkan hadiah" setelah mengalami masa sulit.
Catat pembelian yang tidak direncanakan selama beberapa minggu dan lihat apakah terdapat pola tertentu.
Mengetahui pemicu membuat keputusan berikutnya lebih mudah dikendalikan.
Pisahkan Kebutuhan, Keinginan, dan Tujuan Keuangan
Salah satu cara sederhana adalah membagi penggunaan uang ke dalam tiga kelompok:
1. Kebutuhan
Pengeluaran yang perlu dipenuhi untuk menjalani kehidupan sehari-hari, seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, dan kewajiban rutin.
2. Keinginan
Pengeluaran yang memberi kenyamanan atau hiburan, tetapi masih dapat ditunda atau disesuaikan.
3. Tujuan Keuangan
Dana yang disiapkan untuk kebutuhan masa depan, misalnya dana darurat, pendidikan, rumah, investasi, atau tujuan pribadi lainnya.
Keinginan tidak harus dihilangkan. Namun, pemisahan ini membantu memastikan bahwa konsumsi tidak mengambil seluruh ruang yang tersedia dalam anggaran.
Tetapkan Batas untuk Pengeluaran Discretionary
Daripada melarang semua pengeluaran untuk hiburan, tetapkan jumlah yang memang boleh digunakan tanpa mengganggu kebutuhan lainnya.
Pengeluaran discretionary dapat mencakup:
- makan di luar;
- hiburan;
- fashion;
- hobi;
- langganan digital;
- hingga liburan.
Dengan adanya batas, seseorang tetap dapat menikmati hasil pendapatan tanpa harus merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu.
Saat batas tersebut sudah tercapai, pembelian berikutnya dapat ditunda ke periode selanjutnya.
Terapkan Waiting Period Sebelum Membeli
Jeda antara keinginan dan transaksi dapat membantu membedakan kebutuhan nyata dari dorongan sementara.
Tidak ada angka yang harus digunakan semua orang, tetapi Anda dapat membuat aturan pribadi, misalnya:
- Pembelian kecil: tunggu beberapa jam.
- Pembelian menengah: tunggu 1–3 hari.
- Pembelian besar: tunggu beberapa hari atau lebih sebelum mengambil keputusan.
Selama masa tunggu, tanyakan:
- Apakah saya masih menginginkannya setelah beberapa hari?
- Apakah barang ini sudah masuk anggaran?
- Apa yang harus dikurangi jika saya membelinya?
- Apakah saya membelinya karena membutuhkan atau karena sedang stres?
- Apakah pembelian ini mengganggu tujuan keuangan lain?
Sering kali, intensitas keinginan membeli berkurang setelah diberi waktu.
Kurangi Pemicu dari Lingkungan Digital
Jika media sosial atau marketplace menjadi salah satu pemicu, buat sedikit hambatan sebelum transaksi.
Contohnya:
- nonaktifkan notifikasi promo;
- hapus barang dari keranjang jika belum yakin;
- berhenti mengikuti akun yang terus memicu perbandingan gaya hidup;
- jangan menyimpan metode pembayaran untuk transaksi yang tidak diperlukan;
- atau batasi waktu membuka marketplace.
Tujuannya bukan menghindari teknologi, melainkan memberi ruang untuk berpikir sebelum mengeluarkan uang.
Kelola Keuangan dengan Bijak Bersama Adapundi
Mengelola keuangan dengan lebih terencana dapat membantu kamu membedakan kebutuhan yang benar-benar penting dari pengeluaran yang hanya memberikan kepuasan sesaat.
Jika suatu saat kamu membutuhkan akses pendanaan untuk kebutuhan yang telah dipertimbangkan dengan matang, pastikan untuk memahami tujuan penggunaan dana, jumlah kewajiban, tenor, serta kemampuan bayar sebelum mengajukan pinjaman daring.
Adapundi merupakan platform pinjaman daring yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui aplikasi Adapundi, kamu dapat melihat informasi mengenai pengajuan, tenor, biaya, dan kewajiban pembayaran sebelum mengambil keputusan.
Gunakan layanan keuangan secara bertanggung jawab dan ajukan pendanaan hanya sesuai kebutuhan serta kemampuan finansialmu.
Download Adapundi sekarang di Playstore dan Appstore sekarang!
