Rasio Utang terhadap Modal: Cara Hitung & Artinya

Oleh Tim Literasi Adapundi · 17 Juli 2026 · 6 mnt baca

Dapatkan ringkasan:
Bagikan:
Rasio Utang terhadap Modal: Cara Hitung & Artinya

Saat bisnis membutuhkan tambahan dana, ada dua pilihan utama: menggunakan modal sendiri atau mengambil pinjaman. Keseimbangan antara keduanya inilah yang diukur oleh rasio utang terhadap modal.

Bagi pelaku usaha, memahami angka ini bukan sekadar keperluan laporan keuangan, tapi bagian dari cara mengelola bisnis dengan lebih terukur. Agar tak salah menghitung, simak informasi lengkapnya di artikel ini.

Apa Itu Rasio Utang terhadap Modal?

Rasio utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER) adalah rasio keuangan yang menunjukkan perbandingan antara utang dengan modal (ekuitas) yang dimiliki perusahaan. Nilai rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal dalam menanggung kewajiban serta tingkat risiko keuangan perusahaan.

Secara sederhana, DER menjawab pertanyaan: dari setiap rupiah modal yang dimiliki, berapa banyak utang yang ditanggung? Fungsinya dalam analisis laporan keuangan adalah memberikan gambaran tentang struktur pendanaan bisnis, apakah lebih banyak ditopang oleh modal sendiri atau oleh kewajiban kepada pihak lain.

Bagi UMKM maupun perusahaan yang lebih besar, rasio ini penting karena memengaruhi kepercayaan kreditur, kemampuan memperoleh pendanaan baru, dan kesehatan arus kas dalam jangka panjang. Bisnis dengan DER yang terkendali dinilai lebih stabil dan lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan.

Baca juga: Rasio Utang: Pengertian, Cara Hitung, dan Batas Amannya

Banner Adapundi.png

Mengapa Debt to Equity Ratio Penting?

DER tidak hanya membantu mengukur struktur pendanaan perusahaan, tetapi juga menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan bisnis maupun pendanaan. Ada tiga alasan utama mengapa angka ini perlu dipahami dengan baik:

1. Menilai Keseimbangan antara Utang dan Modal

Struktur modal yang seimbang menunjukkan bahwa bisnis tidak terlalu bergantung pada pinjaman untuk beroperasi. Ketika utang jauh melampaui modal, risiko gagal bayar meningkat dan kemampuan bisnis untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang berubah menjadi lebih rapuh. DER memberi sinyal awal sebelum kondisi ini berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

2. Membantu Analisis Laporan Keuangan

DER jarang berdiri sendiri sebagai satu-satunya indikator. Rasio ini biasanya dianalisis bersama laporan laba rugi dan laporan arus kas untuk mendapatkan gambaran kondisi keuangan yang lebih menyeluruh. Kombinasi ketiganya membantu pemilik usaha maupun analis memahami apakah bisnis sedang tumbuh secara sehat atau sedang menanggung beban yang terlalu berat.

3. Menjadi Pertimbangan Investor dan Kreditur

Sebelum memutuskan memberikan pinjaman atau berinvestasi, lembaga keuangan dan investor akan melihat DER sebagai salah satu indikator awal. Rasio yang sehat menunjukkan bahwa bisnis dikelola dengan disiplin finansial, dan ini langsung memengaruhi kepercayaan serta kemudahan akses pendanaan di masa depan.

Cara Menghitung Rasio Utang terhadap Modal

Menghitung rasio utang terhadap modal cukup sederhana selama data pada laporan keuangan tersedia.

Rumus Debt to Equity Ratio:

DER = Total Utang ÷ Total Modal (Ekuitas)

Total utang mencakup seluruh kewajiban jangka pendek dan jangka panjang. Modal atau ekuitas berasal dari modal pemilik ditambah laba yang ditahan.

Contoh perhitungan:

Komponen Nilai
Utang jangka pendek Rp200.000.000
Utang jangka panjang Rp300.000.000
Total utang Rp500.000.000
Modal pemilik Rp350.000.000
Laba ditahan Rp150.000.000
Total ekuitas Rp500.000.000
DER 500.000.000 ÷ 500.000.000 = 1,0

Dari contoh di atas, DER sebesar 1,0 menunjukkan struktur pendanaan yang relatif seimbang antara utang dan modal.

Cara Membaca Hasil Rasio Utang terhadap Modal

Setelah mengetahui cara menghitung rasio utang, langkah berikutnya adalah memahami arti dari hasil perhitungannya. Berikut interpretasi umum yang bisa dijadikan acuan:

  • DER < 1: Modal lebih besar daripada utang, menunjukkan bisnis lebih banyak didanai dari sumber internal
  • DER sekitar 1: Struktur pendanaan relatif seimbang antara utang dan modal
  • DER > 1: Utang lebih besar dibanding modal, perlu dievaluasi apakah masih dalam batas yang dapat dikelola
  • DER terlalu tinggi: Risiko keuangan meningkat dan kemampuan memperoleh pembiayaan baru dapat berkurang

Perlu dicatat bahwa nilai DER yang dianggap ideal berbeda di setiap industri. Bisnis padat modal seperti manufaktur atau properti umumnya memiliki DER lebih tinggi dibanding bisnis jasa. Karena itu, selalu bandingkan DER dengan standar sektor usaha yang relevan, bukan hanya dengan angka absolut.

Baca juga: Debt to Income Ratio: Pengertian, Cara Hitung & Tips

Faktor yang Memengaruhi Rasio Utang terhadap Modal

Nilai DER tidak statis. Angka ini berubah seiring keputusan bisnis dan kondisi keuangan yang terus berkembang. Beberapa faktor yang paling sering memengaruhi pergerakannya:

  • Penambahan pinjaman baru yang meningkatkan total utang
  • Bertambahnya setoran modal dari pemilik atau investor
  • Laba yang tidak dibagikan dan dialokasikan sebagai tambahan ekuitas
  • Penurunan nilai aset atau kerugian usaha yang mengikis ekuitas
  • Pelunasan sebagian utang yang secara langsung memperbaiki rasio

Rasio Utang terhadap Modal dan Ketentuan Pajak

Selain digunakan dalam analisis bisnis, rasio utang terhadap modal juga memiliki kaitan dengan aspek perpajakan bagi badan usaha tertentu.

Dalam regulasi perpajakan Indonesia, struktur pendanaan perusahaan dapat memengaruhi perlakuan biaya bunga dalam perhitungan pajak penghasilan (PPh) badan. Pemerintah menetapkan ketentuan terkait perbandingan utang dan modal yang perlu diperhatikan agar biaya bunga dapat diakui sebagai pengurang penghasilan kena pajak sesuai aturan yang berlaku.

Karena regulasi di bidang ini dapat berubah, sangat disarankan untuk selalu mengacu pada ketentuan perpajakan terbaru atau berkonsultasi dengan konsultan pajak apabila struktur utang perusahaanmu cukup kompleks.

Cara Menjaga Rasio Utang terhadap Modal Tetap Sehat

Struktur pendanaan yang baik membantu bisnis berkembang tanpa membebani arus kas secara berlebihan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga DER tetap dalam kisaran yang sehat:

1. Gunakan Pinjaman Sesuai Kebutuhan yang Terencana

Setiap penambahan utang sebaiknya sudah diperhitungkan dampaknya terhadap DER dan kemampuan bayar bulanan. Hindari mengambil pinjaman hanya karena fasilitas tersedia, pastikan ada kebutuhan nyata yang mendasari keputusan tersebut dan sudah ada rencana pelunasannya.

2. Tingkatkan Modal dan Laba Ditahan

Salah satu cara paling efektif memperbaiki DER adalah dengan memperkuat sisi ekuitas. Sebagian keuntungan yang tidak dibagikan sebagai dividen dapat dialokasikan sebagai tambahan modal, sehingga rasio secara bertahap menjadi lebih sehat tanpa harus melunasi utang sekaligus.

3. Kelola Arus Kas dan Lakukan Evaluasi Berkala

Evaluasi laporan keuangan secara rutin, minimal setiap kuartal, untuk memantau pergerakan DER dan memastikan kondisi utang serta modal tetap terkendali. Perubahan kecil yang tidak dipantau bisa berdampak besar pada struktur keuangan bisnis dalam jangka panjang.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung DER

Kesalahan dalam perhitungan dapat menghasilkan analisis yang kurang akurat dan berujung pada keputusan bisnis yang keliru. Beberapa yang perlu dihindari:

  • Tidak memasukkan seluruh komponen utang, baik jangka pendek maupun jangka panjang
  • Salah menghitung nilai ekuitas karena tidak memperhitungkan laba ditahan
  • Menggunakan laporan keuangan yang belum diperbarui sehingga datanya tidak mencerminkan kondisi terkini
  • Hanya melihat DER tanpa menganalisis rasio keuangan lainnya secara bersamaan
  • Mengabaikan karakteristik industri saat membandingkan nilai DER dengan bisnis lain

Baca juga: Cek Kesehatan Finansial untuk Kondisi Keuangan Stabil

Butuh Tambahan Dana untuk Kebutuhan Mendesak? Adapundi Bisa Jadi Pilihan

Rasio utang terhadap modal bukan sekadar angka di laporan keuangan. Ini menjadi gambaran seberapa sehat struktur pendanaan bisnis kamu dan seberapa siap menanggung kewajiban yang ada. Semakin kamu pahami angka ini, semakin bijak keputusan finansial yang bisa diambil, termasuk saat menimbang apakah perlu tambahan dana atau tidak.

Kalau pada akhirnya membutuhkan dana untuk kebutuhan pribadi yang mendesak, Adapundi bisa jadi pilihan. Platform pinjaman daring ini sudah berizin dan diawasi OJK, pengajuannya cukup lewat aplikasi dengan KTP dan nomor HP aktif tanpa perlu jaminan apapun.

Limit tersedia hingga Rp100 juta dengan tenor 3 hingga 12 bulan, proses pencairan cepat langsung ke rekening setelah pinjaman disetujui.

Tunggu apalagi? Download aplikasi Adapundi sekarang agar kamu bisa lebih tenang soal dana cepat untuk kebutuhan kamu!

Pastikan baca seluruh ketentuan pinjaman dan ajukan sesuai kebutuhan, ya!

Sumber:

https://www.investopedia.com/terms/d/debt-to-capitalratio.asp

https://accounting.binus.ac.id/2026/05/25/debt-to-equity-ratio-der/

https://perpajakan.ddtc.co.id/id/data-informasi/glosarium/ketentuan-perbandingan-antara-utang-dan-modal