
Banyak bisnis yang gagal bukan karena produknya buruk, tapi karena kehabisan uang di waktu yang tidak terduga. Di balik bisnis yang bertahan dan tumbuh, hampir selalu ada satu kebiasaan yang sama: mereka tahu ke mana uangnya akan pergi sebelum uang itu benar-benar keluar. Itulah fungsi proyeksi keuangan. Yuk pelajari selengkapnya lewat artikel ini.
Apa Itu Proyeksi Keuangan?
Proyeksi keuangan adalah estimasi kondisi keuangan bisnis di masa depan berdasarkan data dan asumsi yang terukur. Berbeda dengan laporan keuangan yang mencatat apa yang sudah terjadi, proyeksi keuangan berfungsi sebagai peta yang menggambarkan ke mana bisnis kemungkinan akan berjalan dalam periode tertentu.
Tujuan penyusunannya beragam: merencanakan anggaran, mengantisipasi kekurangan kas, menentukan target penjualan, hingga meyakinkan investor atau lembaga keuangan bahwa bisnis layak didanai. Karena itu, proyeksi dibutuhkan oleh hampir semua pelaku usaha, dari UMKM yang baru memulai hingga perusahaan yang sudah berskala besar.
Dasar dari proyeksi yang baik adalah data historis. Tanpa data masa lalu, asumsi yang dibuat hanya tebakan. Dengan data minimal satu hingga tiga tahun ke belakang, proyeksi yang dihasilkan jauh lebih realistis dan bisa dipertanggungjawabkan.
Baca juga: Cara Mengatur Keuangan Usaha agar Cashflow Sehat
Mengapa Proyeksi Keuangan Penting bagi Keuangan Bisnis?
Proyeksi keuangan bukan dokumen yang dibuat sekali lalu disimpan. Ini adalah alat kerja aktif yang memengaruhi hampir setiap keputusan bisnis yang kamu ambil. Berikut alasan konkretnya:
1. Membantu Mengelola Arus Kas
Arus kas yang tidak terpantau adalah salah satu penyebab utama bisnis kolaps meski penjualannya tinggi. Proyeksi arus kas membantu kamu melihat kapan dana akan masuk dan kapan kewajiban harus dibayar, sehingga tidak ada momen di mana bisnis kehabisan uang tunai di waktu yang kritis.
2. Menjadi Dasar Penyusunan Laporan Laba Rugi
Proyeksi pendapatan dan biaya operasional adalah fondasi dari laporan laba rugi yang direncanakan. Dengan menyusun proyeksi ini terlebih dahulu, kamu bisa mengetahui apakah bisnis berpotensi menghasilkan laba atau justru merugi sebelum periode berjalan berakhir.
3. Mendukung Pengambilan Keputusan Bisnis
Ekspansi, rekrutmen karyawan baru, atau pembelian aset besar sebaiknya tidak diputuskan berdasarkan intuisi saja. Proyeksi keuangan memberikan gambaran apakah bisnis memiliki kapasitas finansial yang cukup untuk menanggung keputusan tersebut tanpa mengganggu operasional yang sudah berjalan.
4. Membantu Menarik Investor dan Lembaga Keuangan
Investor dan lembaga keuangan tidak hanya melihat kondisi bisnis saat ini, tapi juga potensinya ke depan. Proyeksi keuangan yang disusun dengan data yang solid dan asumsi yang realistis menjadi salah satu dokumen penting yang memperkuat kepercayaan mereka terhadap bisnismu.
5. Mengurangi Risiko Perencanaan Keuangan
Tidak ada proyeksi yang sempurna, tapi bisnis yang punya proyeksi jauh lebih siap menghadapi perubahan dibanding yang tidak punya sama sekali. Ketika kondisi aktual meleset dari proyeksi, kamu sudah punya titik referensi untuk mengevaluasi dan menyesuaikan strategi lebih cepat.
Komponen Utama dalam Proyeksi Keuangan
Proyeksi keuangan yang lengkap terdiri dari beberapa komponen yang saling terhubung. Berikut gambaran umumnya:
| Komponen | Isi | Fungsi |
|---|---|---|
| Proyeksi Pendapatan | Estimasi penjualan per periode | Dasar seluruh perhitungan keuangan |
| Proyeksi Biaya Operasional | Gaji, sewa, utilitas, bahan baku | Menghitung beban yang harus ditanggung |
| Proyeksi Laba Rugi | Pendapatan dikurangi seluruh biaya | Mengetahui potensi keuntungan atau kerugian |
| Proyeksi Arus Kas | Pergerakan uang masuk dan keluar | Memastikan likuiditas bisnis terjaga |
| Proyeksi Neraca | Aset, kewajiban, dan ekuitas | Gambaran posisi keuangan bisnis |
Cara Membuat Proyeksi Keuangan
Menyusun proyeksi keuangan tidak harus rumit. Yang penting adalah prosesnya sistematis dan datanya bisa dipertanggungjawabkan. Ikuti langkah-langkah berikut sebagai panduan praktisnya:
1. Kumpulkan Data Historis Bisnis
Mulai dari data yang sudah ada: laporan penjualan, pengeluaran rutin, riwayat arus kas, dan tren musiman yang pernah terjadi. Semakin lengkap data historisnya, semakin kuat pijakan untuk membuat asumsi ke depan.
2. Tentukan Target Penjualan
Tetapkan estimasi pendapatan berdasarkan tren historis, kondisi pasar saat ini, dan rencana bisnis yang akan dijalankan. Hindari angka yang terlalu optimistis tanpa dasar yang jelas karena ini yang paling sering membuat proyeksi meleset jauh dari realisasi.
3. Estimasikan Biaya Operasional
Hitung semua biaya yang akan dikeluarkan dalam periode proyeksi, mulai dari biaya tetap seperti sewa dan gaji hingga biaya variabel yang berubah sesuai volume produksi atau penjualan. Jangan lupa sisipkan alokasi untuk biaya tak terduga.
4. Susun Proyeksi Laporan Laba Rugi
Setelah pendapatan dan biaya diestimasi, susun dalam format laba rugi sederhana. Dari sini kamu bisa melihat apakah margin keuntungan yang dihasilkan cukup sehat atau perlu ada penyesuaian di sisi pendapatan maupun efisiensi biaya.
5. Buat Proyeksi Laporan Arus Kas
Proyeksi arus kas berbeda dari laba rugi karena fokusnya pada pergerakan uang tunai secara aktual, bukan pencatatan akrual. Ini yang paling penting untuk memastikan bisnis tidak kehabisan kas meski di atas kertas terlihat untung.
6. Evaluasi dan Perbarui Proyeksi Secara Berkala
Proyeksi bukan dokumen statis. Bandingkan angka proyeksi dengan realisasi setiap bulan atau kuartal, lalu perbarui asumsi yang sudah tidak relevan. Bisnis yang rutin melakukan ini punya kontrol yang jauh lebih baik atas kondisi keuangannya.
Baca juga: Cash Flow Bisnis: Pengertian, Pentingnya, dan Solusi Mengatasinya untuk UMKM
Contoh Proyeksi Keuangan Sederhana
Berikut contoh proyeksi laba rugi untuk bisnis kuliner skala kecil dalam satu kuartal.
| Komponen | Bulan 1 | Bulan 2 | Bulan 3 |
|---|---|---|---|
| Pendapatan penjualan | Rp15.000.000 | Rp17.000.000 | Rp20.000.000 |
| Biaya bahan baku | Rp6.000.000 | Rp6.800.000 | Rp8.000.000 |
| Biaya tenaga kerja | Rp3.000.000 | Rp3.000.000 | Rp3.000.000 |
| Biaya sewa dan utilitas | Rp2.000.000 | Rp2.000.000 | Rp2.000.000 |
| Biaya pemasaran | Rp500.000 | Rp700.000 | Rp1.000.000 |
| Total biaya | Rp11.500.000 | Rp12.500.000 | Rp14.000.000 |
| Laba bersih | Rp3.500.000 | Rp4.500.000 | Rp6.000.000 |
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menyusun Proyeksi Keuangan
Proyeksi yang tidak akurat bisa lebih berbahaya dari tidak punya proyeksi sama sekali karena memberi rasa aman yang palsu. Hindari kesalahan-kesalahan berikut:
- Menggunakan asumsi yang terlalu optimistis tanpa dukungan data
- Tidak memanfaatkan data historis sebagai pijakan proyeksi
- Tidak membuat proyeksi arus kas dan hanya fokus pada laba rugi
- Mengabaikan kemungkinan biaya tak terduga dalam perhitungan
- Tidak memperbarui proyeksi saat kondisi bisnis atau pasar berubah
- Menggunakan data yang tidak konsisten antara satu periode dengan periode lainnya
- Tidak pernah membandingkan proyeksi dengan realisasi aktual
Tips agar Proyeksi Keuangan Lebih Akurat
Akurasi proyeksi tidak datang dari software canggih, tapi dari kedisiplinan dalam mengumpulkan data dan kejujuran dalam membuat asumsi:
- Gunakan data historis minimal satu hingga tiga tahun sebagai acuan
- Buat asumsi yang realistis berdasarkan kondisi pasar yang sebenarnya
- Perbarui proyeksi secara berkala, minimal setiap kuartal
- Gunakan software pembukuan jika volume transaksi sudah cukup besar
- Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis agar data yang digunakan bersih
- Pantau arus kas setiap bulan tanpa terkecuali
- Sesuaikan proyeksi dengan perubahan kondisi pasar yang relevan
Baca juga: Dana Cadangan: Cara Menggunakannya untuk Stabilitas Keuangan Bisnis
Saat Butuh Dana untuk Kebutuhan Mendesak, Adapundi Kasih Solusi
Menjalankan usaha dengan proyeksi keuangan tidak menutup kemungkinan kita untuk membutuhkan dana mendesak, baik untuk kebutuhan keluarga maupun tambahan modal.
Di sinilah kamu butuh pendanaan dengan proses cepat dan tidak ribet seperti Adapundi. Bukan hanya cepat, pinjaman daring Adapundi juga sudah berizin dan diawasi OJK.
Pengajuannya sepenuhnya lewat aplikasi, cukup dengan KTP tanpa perlu antre atau datang ke kantor.
Limit yang tersedia cukup tinggi jadi bisa disesuaikan langsung dengan kebutuhan bisnis. Kamu bisa coba kalkulator Adapundi untuk cek berapa besaran cicilan per bulan untuk jumlah pinjaman dan tenor yang diinginkan.
Download Adapundi di Play Store atau App Store dan lihat opsi pendanaan yang sesuai dengan kondisi keuanganmu.
Sumber:
https://www.hashmicro.com/id/blog/proyeksi-keuangan-perusahaan-anda-menggunakan-software-akuntansi/
https://accountingplus.id/blog/proyeksi-keuangan/
https://ukirama.com/blogs/pentingnya-menentukan-proyeksi-keuangan-dalam-business-plan

