
Pengen resign tapi masih punya cicilan? Keinginan resign bisa datang kapan saja, tetapi cicilan tetap memiliki tanggal jatuh tempo yang tidak bisa ditunda. Karena itu, sebelum mengambil keputusan, penting untuk memastikan kondisi keuangan benar-benar siap menghadapi masa transisi.
Dalam artikel ini, kamu akan menemukan langkah-langkah yang bisa dilakukan agar resign tidak mengganggu kemampuan membayar cicilan maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari. Simak hingga akhir.
Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Resign
Mengundurkan diri sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kondisi pekerjaan, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan finansial. Dengan mengevaluasi kondisi keuangan sejak awal, kamu dapat memperkirakan apakah kebutuhan sehari-hari dan kewajiban bulanan masih dapat dipenuhi setelah tidak lagi menerima gaji tetap.
Sebelum mengambil keputusan, coba periksa beberapa hal berikut:
- Total cicilan yang masih berjalan.
- Besarnya pengeluaran rutin setiap bulan.
- Dana darurat yang tersedia.
- Peluang memperoleh pekerjaan baru.
- Sumber pendapatan selain gaji.
Semakin lengkap persiapan yang dilakukan, semakin kecil risiko mengalami kesulitan keuangan selama mencari pekerjaan atau membangun karier baru.
Baca juga: Dana Darurat untuk Karyawan Gaji 5 Juta
Hitung Kemampuan Membayar Cicilan Setelah Resign
Banyak orang menghitung cukup tidaknya uang pesangon, tetapi lupa memperkirakan kondisi keuangan beberapa bulan setelah resign. Padahal, simulasi sederhana dapat membantu melihat apakah tabungan yang dimiliki mampu menutup kebutuhan selama masa transisi:
| Hal yang Dihitung | Tujuannya |
|---|---|
| Total cicilan bulanan | Mengetahui kewajiban tetap setiap bulan. |
| Pengeluaran rutin | Menghitung kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda. |
| Dana darurat | Memperkirakan berapa lama dana dapat mencukupi kebutuhan. |
| Perkiraan pemasukan baru | Menilai kapan kondisi keuangan mulai kembali stabil. |
| Selisih pemasukan dan pengeluaran | Mengidentifikasi potensi kekurangan dana selama masa transisi. |
Dari simulasi tersebut, kamu bisa menentukan apakah waktu resign sudah tepat atau masih perlu menunggu hingga kondisi finansial lebih siap.
Dana Darurat Menjadi Prioritas Utama
Saat gaji berhenti, dana darurat menjadi penyangga utama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar kewajiban yang masih berjalan. Karena itu, keberadaannya jauh lebih penting dibanding rencana menggunakan tabungan untuk kebutuhan konsumtif.
Idealnya, dana darurat yang dimiliki adalah:
- 3 hingga 6 bulan pengeluaran untuk kamu yang masih lajang.
- 6 hingga 12 bulan pengeluaran bagi yang sudah berkeluarga.
- Lebih besar jika bekerja sebagai freelancer atau memiliki penghasilan yang tidak tetap.
Apabila dana darurat belum mencapai jumlah tersebut, tidak ada salahnya menunda resign beberapa waktu sambil memperkuat kondisi keuangan.
Strategi Mengelola Cicilan Sebelum Berhenti Bekerja
Jika keputusan resign mulai dipertimbangkan, langkah berikutnya adalah memastikan seluruh kewajiban tetap dapat dikelola dengan baik. Strategi sederhana berikut dapat membantu mengurangi tekanan keuangan selama masa transisi:
1. Prioritaskan Pembayaran Cicilan
Pastikan seluruh cicilan tetap dibayar tepat waktu. Selain menghindari denda, kebiasaan ini juga membantu menjaga riwayat kredit tetap baik.
2. Kurangi Pengeluaran yang Tidak Mendesak
Mulailah mengevaluasi pengeluaran bulanan dan tunda pembelian yang belum benar-benar diperlukan. Dana yang dihemat dapat dialihkan untuk kebutuhan pokok atau cicilan.
3. Lunasi Utang Berbunga Tinggi Terlebih Dahulu
Jika memiliki beberapa kewajiban, prioritaskan utang dengan bunga atau biaya yang lebih besar. Langkah ini membantu mengurangi beban pembayaran pada bulan-bulan berikutnya.
4. Hindari Menambah Kewajiban Baru
Menjelang resign, sebaiknya hindari mengambil cicilan baru untuk barang konsumtif. Fokus utama adalah menjaga kondisi keuangan tetap stabil sampai memiliki sumber pendapatan berikutnya.
Baca juga: Cara Hitung Gaji Bersih agar Keuangan Lebih Terkelola
Alternatif Sumber Penghasilan Setelah Resign
Resign tidak selalu berarti berhenti memperoleh penghasilan. Banyak orang justru memanfaatkan masa transisi untuk membangun sumber pemasukan baru yang lebih sesuai dengan tujuan kariernya.
Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Memulai usaha kecil.
- Menjadi freelancer sesuai bidang keahlian.
- Membuka jasa profesional.
- Menjual produk secara daring.
- Mengembangkan investasi yang telah dimiliki.
- Memanfaatkan keterampilan digital sebagai sumber penghasilan tambahan.
Semakin cepat kamu memiliki pemasukan baru, semakin ringan beban keuangan yang harus ditanggung selama masa transisi.
Tanda Kamu Sebaiknya Menunda Resign
Tidak semua kondisi mengharuskan resign dilakukan secepat mungkin. Dalam beberapa situasi, memberi waktu tambahan untuk memperkuat kondisi finansial justru menjadi keputusan yang lebih bijak.
Beberapa tanda bahwa kamu sebaiknya menunda resign adalah:
- Dana darurat belum mencukupi.
- Belum memiliki pekerjaan pengganti.
- Cicilan menghabiskan sebagian besar penghasilan.
- Masih memiliki tanggungan keluarga yang besar.
- Belum memiliki rencana pendapatan alternatif.
Menunggu beberapa bulan sambil memperbaiki kondisi keuangan sering kali memberikan ruang untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang.
Jika Resign Tidak Bisa Ditunda, Apa yang Harus Dilakukan?
Ada situasi tertentu ketika resign memang harus dilakukan, misalnya karena alasan kesehatan, kondisi pekerjaan yang tidak kondusif, atau perubahan prioritas hidup. Dalam kondisi seperti ini, langkah yang diambil setelah resign akan sangat menentukan kondisi keuangan ke depannya:
1. Susun Anggaran Baru
Sesuaikan seluruh pengeluaran dengan kondisi pendapatan setelah resign. Pisahkan kebutuhan pokok dari pengeluaran yang masih bisa ditunda agar anggaran lebih terkendali.
2. Komunikasikan Kewajiban Keuangan dengan Keluarga
Jika kamu sudah berkeluarga, bicarakan perubahan kondisi finansial secara terbuka. Perencanaan bersama akan membantu menentukan prioritas pengeluaran selama masa transisi.
3. Gunakan Dana Tambahan Secara Bijak
Apabila memperoleh pesangon atau pencairan hak karyawan, utamakan penggunaannya untuk kebutuhan pokok, dana darurat, dan pembayaran cicilan. Hindari menghabiskan dana tersebut untuk pengeluaran yang tidak mendesak.
Baca juga: Dana Cadangan: Pengertian dan Cara Menggunakannya untuk Stabilitas Keuangan Bisnis
Rencanakan Kebutuhan Dana Selama Masa Transisi Karier
Resign bukan hanya tentang meninggalkan pekerjaan lama, tetapi juga memberi waktu bagi diri sendiri untuk memulai langkah berikutnya. Masa transisi ini sering kali membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi, hingga menyiapkan modal apabila ingin merintis usaha.
Jika setelah membuat perhitungan masih ada kebutuhan dana yang belum dapat dipenuhi, tidak berarti kamu harus menunda seluruh rencana. Hal yang terpenting adalah memilih solusi pembiayaan yang sesuai dengan kondisi keuangan dan benar-benar digunakan untuk kebutuhan yang sudah diperhitungkan.
Adapundi menyediakan layanan pinjaman daring dengan proses pengajuan yang praktis, informasi biaya yang transparan, serta pilihan tenor yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pembayaran. Kamu juga bisa mengetahui berapa cicilan per bulan yang harus dibayarkan sesuai dengan jumlah pinjaman dan tenor yang diinginkan lewat kalkulator Adapundi.
Yuk download aplikasi Adapundi dan siapkan ruang finansial untuk melewati masa transisi dengan perencanaan masa resign yang lebih matang.

